Tampilkan postingan dengan label cerita sexs remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita sexs remaja. Tampilkan semua postingan

CERITA DEWASA TERBARU ~ ENAKNYA NGENTOT DI KOLAM RENANG

CERITA DEWASA TERBARU ~ ENAKNYA NGENTOT DI KOLAM RENANG ~

Cerita dewasa ini khusus buat kamu - kamu semua yang doyan sama cerita ngentot, khusus buat yang udah umur 18+. oke langsung aja cekidot ~



 
Ini kisah nyata semua diambil dari peristiwa yang sebenarnya cuman baik dan buruk Anda yang tahu, pengalaman ini diringkas dalam cerita seks seks pemerkosaan yang akan sajikan. Hari saya, sekitar 12 siang, saya baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi sehingga saya bisa memarkir mobil saya Pheew ... saya akhirnya melepaskan kelelahan setelah mengambil seminggu selama UAS. Saya ingin mengambil saat-saat tenang ketika, tanpa ditemani siapa pun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota Jadi saya lebih baik menikmati privasi saya, jadi saya mengatakan kepada Pak Joko pulang ke rumah yang ada di desa sekitar sini. Tn. Ricardo memiliki bekerja di tempat ini sejak ayahku membeli villa ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah dirampok. Dia hampir seperti ayah saya, 50-an lebih, tinggi dan kurus dengan kulit terbakar hitam. Saya sebenarnya berniat mengerjainya daridulu, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.

"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Ayah akan pulang kok, tinggal dateng aja" pamitnya.

Setelah Pak Joko pergi, aku membersihkan semua barang bawaan. Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil menghela napas, lega setelah dipisahkan dari buku kuliah. Cuaca hari itu cerah, matahari bersinar dengan diiringi angin sepoi-sepoi yang membuat suasana terasa lebih santai. Aku jadi ingin berenang, terutama setelah aku melihat kolam air di belakang bersih sekali, perawatan telaten Pak Joko dari villa ini. Segera aku mengambil perlengkapan berenang dan menuju ke kolam renang.

Sesampainya ada pengaturan lain saya merasa sangat baik, begitu tenang, bahwa hanya ada kicau burung dan gemerisik air angin tertiup. Mendadak kegilaan, Selama ini, tenang kesepian, bagaimana jika saya hanya berenang telanjang, namun tidak ada orang lain di sini tapi saya anyway aku senang orang mengagumi keindahan tubuh saya. Jadi tanpa pikir panjang lagi, aku melepas satu per satu semua pada tubuh saya, termasuk jam tangan dan perhiasan semua sampai benar-benar telanjang seperti saat lahir. Setelah mengeluarkan cincin terakhir pada tubuh saya, saya langsung melompat ke dalam kolam. Aahh .. terasa begitu baik untuk berenang telanjang seperti ini, tubuh terasa lebih ringan. Beberapa kali saya bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya punggung (karena saya tidak bisa, hehe ..)

20 menit selama aku berada di kolam renang, saya akan merasa haus dan ingin istirahat sebentar untuk berjemur di kolam renang. Saya kemudian bangkit dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah saya mengambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali ke kolam. Kurebahkan diriku di kursi santai di sana dan saya memakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Untuk menghaluskan kulit putih tidak terbakar matahari, saya mengambil oilku berjemur dan menggosok seluruh tubuh saya terlihat mengkilap. Jadi cuaca lezat di sini membuat saya mengantuk, jadi jangan merasa saya perlahan-lahan jatuh tertidur. Di dalamnya aku berbaring di kolam tanpa apa-apa yang melekat pada tubuh saya, kecuali untuk kacamata hitam. Jika saja ada pencuri masuk dan melihat situasi saya seperti itu, tentu saja aku diperkosa sampai mati.

Tengah tidur saya, saya merasa ada sesuatu yang meraba tubuhku, tangan itu membelai paha saya dan kemudian menyebar ke dada. Ketika tangan menyentuh pangkal paha bibir tiba-tiba membuka mata saya dan saya terkejut karena saya merasa itu bukan hanya mimpi. Aku melihat ada seseorang yang meraih saya dan jadi saya membangunkannya dengan sigapnya menyambar bahu saya dan dengan tangan menutupi mulut, mencegah saya dari menjerit. Saya mulai mengenal orang, ia adalah Taryo, penjaga vila tetangga, ia berusia 30-an, wajahnya sedikit jelek dengan gigi bengkok, pipi cekung dan matanya benar lebar di depan wajahku.
"Ssst .. Neng bisa dilewati Menurut menulis, di sini sudah ga ada orang lain, sehingga tidak berani!" Ancamnya
Aku hanya mengangguk, meskipun masih agak terkejut, lalu perlahan-lahan ia melepaskan saya dalam mulut bekapannya
"Hehehe .. waktu yang lama sekarang aku ingin Neng ngerasain sama telanjang!" Katanya, matanya menatap dadaku
"Telanjang ya telanjang, tapi dong sopan bertanya, memiliki pencuri tidak begitu kaya!" Aku berkata, marah.

Ternyata tanpa sadar dia sedang menonton saya dari berenang dari tuannya dan vila loteng bahwa ia sering tidak ketika seorang wanita daridulu berenang di sini. Mengetahui Pak Joko tidak ada di sini dan aku tertidur, ia sangat ingin memanjat dinding untuk masuk ke sini. Sebenarnya saya tidak dalam mood untuk seks karena mereka masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuat BT (birahi tinggi).
"Heh, ia ingin gua pemerkosa, mengapa tidak membuka baju juga yang terakhir pegang-pegang doang berani!" Saya menantang.
"Hehe, ya ini Neng Neng abis loh payudara, montok benar-benar lupa deh" katanya sambil melepaskan pakaian compang-camping.
Tubuh begitu baik, meskipun agak tipis dan kotor, penisnya yang sudah tegang cukup, tentang ukuran miliknya di Wahyu, tukang pipa yang memainkan dengan saya (baca Air Junior, Listrik, dan Konstruksi).

Dia duduk di pinggir kursi dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikagumi, sementara aku meraih penisnya dengan tangan saya sampai saya merasa dan kukocok penis semakin keras. Aku mendesis nikmat vagina dan membelai tangannya mengusap bibirnya.
"Eenghh .. terus .. Oohh Tar!" Desahku, meremasi rambut Taryo yang mengisap payudaraku.
Lalu kepalanya perlahan-lahan merayap turun dan berhenti di pangkal paha. Aku mendesah semakin tak menentu karena lidahnya bermain-main di sana ditambah dengan jarinya bergerak masuk dan keluar. Saya harus memeras payudara dan menggigit jari-jari saya tidak akan terus sendiri karena rasanya yang lezat kesemutan, kesemutan sampai akhirnya tubuhku mengejang dan melepaskan vaginanya hangat. Dengan Taryo melek rem Aku meraih rambutnya menyeruput vaginaku. Perasaan yang terus berlanjut sampai saya merasa cairanku tidak keluar lagi, lalu kepala Taryo off dari sana, mulutnya tampak basah dengan cairan cinta.

Belum beres saya set berburu napas, mulut saya dilumatnya dengan ganas. Saya merasa aroma cairan cinta saya sendirian di mulutnya tertutup cair. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalah napas sedikit bau, baik bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit saya bisa beradaptasi yang baru, permainan lidah dilunasi sampai lidah kami saling terkait dan mengisap. Kami juga berpagutan cukup lama, dia juga menjilati wajahku yang halus dengan jerawat tidak sampai wajahku basah oleh air liur.
"Gua ga Tar lagi, di sini saya punya lu semut" kataku.
Para Taryo segera bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih berbaring di kursi santai, saya memegangnya, dan kujilati kukocok sejenak sebelum saya dimasukkan ke dalam mulut.

Mulutku penuh dengan penisnya, itu bukan 3/4nya sepenuhnya dimasukkan hanya menampung saja. Aku memainkan lidahku di kepala penisnya adalah helm-suka, kadang-kadang saya menjilat lubang kencing nya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah keenakan sebuah desahan. Satu tangan memegang kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
"Eemmpp .. emmphh .. nngg .." Saya mendesah tertahan karena hampir kehabisan napas, tetapi tidak peduli. Penis kepala berulang kali terhadap tenggorokan dinding. Lalu aku merasa ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan, tapi karena lelehan cairan di mulut saya. Semburannya belum selesai, dia mengeluarkan penisnya, sehingga semburan berikut disekujur mendarat di wajahku, kacamata hitam saya juga semen basah disemprot.

Aku melepas kacamata saya, maka saya mengusap wajah saya dengan tangan saya. Sisa-sisa sperma di kujilati jariku melekat sampai akhir. Ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Mr Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua sedang telanjang. Saya sendiri terkejut dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan ini pada ortuku.
"Eehh .. maaf Neng, Ayah hanya ingin Bapak ngambil uang di dalam ruangan, tahu ini ga Neng gituan lebih" dia tergagap.
Karena aku harus bertahan, aku akan menawarkan diri putus asa dan berjalan ke arahnya.
"Ah .. Pak oke ga itu, tindak memperbaiki Mr yuk aja!" Godaku.
Lihat keluguan jakunnya naik turun tubuhku, meskipun agak gugup matanya terpaku pada payudara saya. Aku membelai batangnya dari luar membuatnya terangsang.


Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
"Neng Neng payudara besar terlalu baik .. Mr diginiin juga baik?" Berjabat tangan terus meremasi payudaranya.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, maka saya menurunkan celana kolornya juga. Ternyata ayam hitam menggantung, jari-jari saya mulai memegangnya. Saya merasa di tanganku bergetar dan mengeras. Perlahan-lahan saya mulai berjongkok di depannya, tanpa basa-basi saya menempatkan batang di tanganku ke mulutnya, dan kuemut kujilati-semut untuk pemiliknya mengerang keenakan
"Yah, Pak Joko sama majikan malu sendiri menulis," seru Pak Joko Taryo yang memperhatikan sedikit gugup untuk menikmati seks oral bagi saya.

Taryo kemudian mendekati kami dan meraih tanganku untuk menjabat kemaluannya. Bergantian mulut dan tangan untuk melayani penis yang menegang. Tidak puas hanya untuk menikmati tangan, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, membuat tubuh saya beristirahat di lutut dan tangan. Aku mulai merasakan sebuah benda didorong ke dalam vagina. Seperti biasa, mulutku terbuka turun melingkupi masalah inci gemerisik oleh penis inci ke vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, menusuk, kepala merayap ke ketiaknya ke mulutnya di atas payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigit dengan gemas, pada penis Pak Joko kocokanku lebih bersemangat.


Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia selesai memperkosa mulut saya begitu bersemangat untuk memajukan pinggul seakan sialan dukungan. Kepala saya dekat dengan dipeganginya dengan kesempatan untuk menghirup udara segar aku tidak ada. Akhirnya saya hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, tembakan satu sama lain menyebabkan penis ke tubuh saya semakin menembus. Perasaan ini benar-benar sulit untuk menjelaskan, saat penis Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis menyentuh tenggorokan Pak Joko, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Saya merasa seperti layang-layang terbang dilakukan sampai akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Seiring dengan bahwa genjotan Taryo merasa lebih kuat. Kami juga mencapai orgasme bersamaan, aku bisa merasakan air mani yang menyembur deras dalam diriku, dari persenggamaan selangkangan saya lelehan cair.

Setelah cukup lama untuk mencapai orgasme, tubuhku berkeringat, mereka tampaknya mengerti situasi saya dan menghentikan aktivitasnya.
"Neng, mungkin ga Mr masuk ke hal nya Pak Neng-begitu?" Kata Mr Joko lembut.
Aku hanya mengangguk, dan kemudian dia berkata lagi, "Tapi Neng istirahat menulis pertama, Neng kaya lelah pula."
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diri. Mereka berdua juga turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan kanan saya Pak Joko. Kami mengobrol sambil memulihkan kekuasaan, di mana tangan-tangan jahil atau mereka selalu hanya meremas dada, paha dan bagian sensitif lainnya. Yang satu mendorong yang lainnya mendarat di sisi lain, lama-lama jadi saya biarkan saja, setelah semua, saya benar-benar menikmatinya.

"Neng, Bapak masuk sekarang aja yah, sudah ga tahan daritadi porsi tidak Neng hal itu" kata Mr Ricardo mengambil posisi berlutut di depan saya.

Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia mengarahkan, kontol panjang keras ke vagina saya, tapi dia tidak segera menusuknya di bibir tapi selangkangan menggesekannya jadi saya menggelitik dan meremas penis Taryo berkelejotan menjilati bagian leher bawah telinga .
"Aahh .. Pak cepet enter dong, sudah kebelet ya!" Desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat ia mulai menekan masuk penisnya. Sekarang vagina saya telah diisi oleh benda hitam panjang dan objek mulai bergerak keluar untuk memberi sensasi kenikmatan ke seluruh tubuh.

"Wow .. Neng pus benar-benar lamban, jika gini sudah tahu dari dulu Bapak entotin" ceracaunya.
"Persetan Anda juga, sudah bercucu Piktor masih, saya kira Anda belajar" kataku dalam hati.

Setelah 15 menit dia mengayuh booting saya dalam posisi itu, ia melepas penisnya dan duduk membungkuk dan mengangkat saya ke penisnya. Dengan refleks saya akan memegang penis saya sambil menurunkan itu sampai jatuh ke dalam celana saya. Dia memegang pantatnya sepotong padat berisi itu, bersama-sama kita mulai gemetar tubuh kita. Desahan kami berbaur dengan suara air kolam percikan, tubuh saya bergerak-gerak tak terkendali, saya menggelengkan kepala di sana-sini, dua payudara yang memantul tidak luput dari tangan dan mulut. Pak Joko memperhatikan penisnya keluar dari vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tidak bisa memahami bagaimana untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah tidak terasa.

Goyangan kami berhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong kembali sehingga pantat saya dan payudaranya semakin tertekan semakin menungging untuk menghadapi Pak Joko. Taryo membuka dan mengarahkan penisnya ke pantatku ada
"Aduuh .. Tar perlahan, sakit tahu .. aww!" Rintihku waktu dia mendorong ke penisnya.
Saya lebih rendah karena itu ramai sekali dijejali dua ayam besar. Kami bergoyang kembali, rasa sakit aku merasa perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat menjalari tubuh saya. Saya menangis tak terkendali ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, sehingga ia kuomeli sedikit lebih lembut. Alih-alih mendengar, Taryo menggenjotku bahkan lebih ganas. Pak Joko melumat bibirku dan lidah dalam mulut saya untuk bermain jadi saya tidak terlalu berisik.

Ini berlangsung sekitar 20 menit lama sampai saya merasa tubuh saya seperti meledak, saya bisa lakukan hanya berteriak dan memeluk Pak Joko erat panjang punggung dan menggaruk kuku. Untuk beberapa detik sampai tubuhku menegang dalam pelukannya lemas kembali Pak Joko. Tapi mereka masih peduli padaku memompaku tanpa ini sudah lemah. Erangan yang keluar dari mulutku terdengar lebih dan lebih berdaya. Tiba-tiba mereka merasa lebih erat memeluk untuk membuat sulit untuk bernapas, mereka juga serangan lebih kuat, putingku disedot keras oleh Pak Joko, dan Taryo rambutku. Lalu kurasakan hangat menyembur cairan di vagina dan anusku, air muncul sedikit cairan putih susu yang melayang-layang. Mereka berdua terkulai lemas antara tubuh saya masih terjebak dengan penis.

Setelah sisa-sisa terakhir kesenangan mereda, saya akan mengundang mereka untuk datang. Menyeka tubuh saya basah kuyup, aku berjalan ke kamar mandi. Eh .. mereka diikuti dan bergabung dengan mandi. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Aku hanya duduk di sana, mereka siram, gosok, dan tentu saja menyabuniku membelai dirinya. Alat kelamin dan payudara bagian yang paling panjang mereka sampai aku menyindir sabuni

"Mengapa .. mengapa ada lathered-neraka menulisnya, kamar mandi untuk membersihkan ga dong, dingin nih" disambut tawa kami.
Setelah itu, akulah yang mencuci giliran mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, saya akan kembali bekerja di kamar mandi.

Hari itu saya dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka tinggal dan tidur dengan saya di tempat tidur, spring bed. Sejak itu jika ada partai seks di vila, mereka selalu diundang untuk istilah-istilah ini jangan biarkan kebocoran rahasia. Aku senang karena ada sarana untuk memuaskan keinginan, mereka dapat merasa senang karena tubuhku dan teman-teman kuliah saya yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu bermain teman-teman orang yang sama di kampus. THE END.

Mau Yang HOT HOT

CERITA SEXS TERBARU ~ GADIS PENGHIBUR YANG SEXY

CERITA SEXS TERBARU ~ GADIS PENGHIBUR YANG SEXY ~


Hai semua !! Nih ane posting cerita sexs terbaru... dijamin deh bakalan bikin "rudal" kamu - kamu semua  bakalan siap meluncur ,.. haha !! oke deh langsung aja cekidot ... ~


Malam telah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23.15. Suasana sepi menyelimuti sebuah kost-kostan yang terletak beberapa kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.. Kost-kostan tersebut lokasinya agak jauh dari keramaian sehingga menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang menginginkan suasana tenang dan sepi. Kost-kostan yang memiliki jumlah kamar mencapai 30 kamar itu terasa sepi karena memang baru saja dibuka untuk disewakan,hanya beberapa kamar saja yang sudah ditempati, sehingga suasananya dikala siang atau malam cukup lengang. Saat itu hujan turun lumayan deras, akan tetapi nampak sesuatu telah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu. Seiring dengan turunnya air hujan,air mata Dinda juga mulai turun berlinang disaat lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Saat ini tubuhnya sudah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan dan takut datang menyelimuti dirinya.
 
Beberapa menit yang lalu secara tiba- tiba dirinya diseregap oleh seseorang lelaki disaat dia masuk kedalam kamar kostnya setibanya dari sebuah tugas penerbangan. Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali,mulutnya disumpal dengan kain dan setelah itu tubuhnya dicampakkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya. Ingin rasanya dia berteriak meminta pertolongan kepada teman-temannya akan tetapi kendaraan antar jemput yang tadi mengantarkannya sepertinya sudah jauh pergi meninggalkan kost-kostan ini, padahal didalam kendaraan tersebut banyak teman-temannya sesama karyawan. Dinda Fitria Septiani adalah seorang Pramugari pada sebuah penerbangan swasta, usianya baru menginjak 19 tahun wajahnya cantik imut-imut, postur tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan yang cantik ini sangat memudahkan baginya untuk diterima bekerja sebagai seorang pramugari. Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang singkat karena kecantikannya itulah dia telah menjadi sosok primadona di perusahaan penerbangan itu. Banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, baik itu sesama karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena alasan masih ingin berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari para lelaki itu ditolaknya. Akan tetapi tidak semua lelaki memahami atas sikap dari Dinda itu. Paul adalah salah satu dari orang yang tidak bisa menerima sikap Dinda terhadap dirinya. Kini dirinya bersama dengan seorang temannya telah melakukan seuatu perhitungan terhadap Dinda.

Rencana busuk dilakukannya terhadap Dinda. Malam ini mereka telah menyergap Dinda dikamar kostnya. Paul adalah satu dari sekian banyaknya lelaki yang menaruh hati kepada dirinya, akan tetapi Paul bukanlah seseorang yang dikenalnya dengan baik karena kedudukannya bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawan-kawannya yang lain, melainkan dia adalah seorang tukang batu yang bekerja dibelakang kost-kostan ini. Ironisnya, Paul yang berusia setengah abad lebih dan melebihi usia ayah Dinda itu lebih sering menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yang terdidik. Segala tingkah laku dan perbuatannyapun cenderung kasar, karena memang dia hidup dilingkungan orang-orang yang bertabiat kasar. “Huh rasakan kau gadis sombong !”, bentaknya kepada Dinda yang tengah tergolek dikasurnya.”Aku dapatkan kau sekarang….!”, lanjutnya. Sejak perjumpaannya pertama dengan Dinda beberapa bulan yang lalu, Paul langsung jatuh hati kepada Dinda.
 
  
 
 
Dimata Paul, Dinda bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga selalu hadir didalam lamunnanya. Diapun berniat untuk menjadikannya sebagai istri yang ke-4. Bak bukit merindukan bulan, Paul tidak berdaya untuk mewujudkan impiannya itu. Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali perkawinan, berusia 51 tahun,lusuh dan miskin menghanyutkan impiannya untuk dapat mendekati sang bidadari itu. Terlebih-lebih ada beberapa kali kejadian yang sangat menyakitkan hatinya terkait dengan Dinda sang bidadari bayangannya itu. Sering tegur sapanya diacuhkan oleh Dinda,tatapan mata Dindapun selalu sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan didalam diri Paul tumbuh subur rasa benci terhadap Dinda, penilaian terhadapnyapun berubah, rasa kagumnya telah berubah menjadi benci namun gairah nafsu sex terhadap Dinda tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur menghantui dirinya selama ini.

Akhirnya dipilihlah sebuah jalan pintas untuk melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak dapat setidaknya dia dapat menikmati tubuh Dinda pikirnya. Jadilah malam ini Paul melakukan aksi nekat, diapun membulatkan hatinya untuk memberi pelajaran kepada Dinda sekaligus melampiaskan nafsunya yang selama ini mulai tumbuh secara subur didalam dirinya. Kini sang bidadari itu telah tergeletak dihadapannya, air matanyapun telah membasahi wajahnya yang putih bersih itu. “Lihat aku, cewek bangsat…..!”, hardiknya seraya memegang kepala Dinda dan menghadapkan kewajahnya. “Hmmmphh….!!”, jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya, mata Dinda pun melotot ketika menyadari bahwa saat ini dia telah berhadapan dengan Paul seseorang yang dibencinya. Hatinyapun langsung ciut dan tergetar tatkala Paul yang berada dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan, “Hahaha….malam ini kamu jadi pemuasku, gadis cantik”. Keringatpun langsung mengucur deras membasahi tubuh Dinda, wajahnya nampak tersirat rasa takut yang dalam, dia menyadari betul akan apa-apa yang bakal terjadi terhadap dirinya. Disaat seperti inilah dia menyadari betul akan ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai hadir didalam hatinya, akan sikap- sikapnya yang tidak berhati-hati terhadap Paul. Kini dihadapan Dinda, Paul mulai melepaskan baju kumalnya satu persatu hingga akhirnya telanjang bulat. Walaupun telah berusia setengah abad lebih, namun karena pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Paul memiliki tubuh yang atletis, badannya hitam legam dan kekar,beberapa buah tatto menghiasi dadanya yang bidang itu. Isak tangis mulai keluar dari mulut Dinda, disaat paul mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Dinda. Melihat ini Dinda berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Paul secepat kilat mencengkram erat kepala Dinda dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Dinda, dengan tubuh yang bergetar Dinda hanya bisa memejamkan matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu. Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh tangan Paul. “Ahhh….perkenalkan rudal gue ini sayang…..akhhh….” ujarnya sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Dinda, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang kemaluannya itu Paul tengah menikmati kehalusan wajah Dinda. “Hai cantik !….sekarang sudah kenal kan dengan tongkol gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama tongkol gue ini….”, sambungnya. Setelah puas dengan itu, kini Paul mendorong tubuh Dinda hingga kembali terjatuh kekasurnya. Sejenak dikaguminya tubuh Dinda yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Paul, apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat.
 

Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh…mmhhh…”, sepertinya Dinda ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa perdulinya paling-paling cuma permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Dinda menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Paul itu kini mengusap-usap bagian pantat Dinda, dirasakan olehnya pantat Dinda yang sekal. Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal “Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Paul sambil terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Dinda. Dinda hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Paul secara perlahan-lahan mengusap kaki Dinda mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya. Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Paul, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Dinda agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Paul tadi langsung menusuk lobang kemaluan Dinda. “Egghhmmmmm…….”,Dinda menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Paul masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Dindapun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika Paul memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Dinda.
Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Dinda, sementara itu badan Dinda menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu “Ehhmmmppphhh….mmpphhhh….. “. Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Dindapun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Paul kemudian mencabut jarinya. Tubuh Dindapun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Dinda kini telanjang. Terlihat oleh Paul, kemaluan Dinda yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu. Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Dinda hingga mengangkang setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah Dinda semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Paul bersiap-siap melakukan penetrasi ketubuh Dinda. “Hmmmmpphhh……….hhhhhmmmm ppp…. ..”, Dinda menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Paul mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Dinda. Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Paul terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain Dinda masih perawan, usianyapun masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Paul berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Dinda.
 

Tubuh Dinda berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun menyadari bahwa malam itu keperawanannya akhirnya terenggut oleh Paul. “Ahh….kena kau sekarang !!! akhirnya Gue berhasil mendapatkan perawan elo !”, bisiknya ketelinga Dinda. Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memiawakkan telinga. Karena ingin mendengar suara rintihan gadis yang telah ditaklukkannya itu,dibukannya kain yang sejak tadi menyumpal mulut Dinda. “Oouuhhh…..baang….saakiitt …banngg….amp uunn …”, rintih Dinda dengan suara yang megap- megap. Jelas Paul tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memopakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Dinda.

“Aakkhh….ooohhhh….oouuhhhh ….ooohhhggh… .”, Dinda merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Paul, badannyapun semakin menggeliat-geliat. Tidak disadarinya justru badannya yang menggeliat-geliat itu malah memancing nafsu Paul, karena dengan begitu otot-otot dinding vaginanya malah semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Paul yang tertanam didalamnya, karenanya Paul merasa semakin nikmat. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Paul terus menggenjot tubuh Dinda, Dindapun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Paul menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, “Ahhh…..ahhhh…oouuhhhh…” . Dan akhirnya Paulpun berejakulasi di lobang kemaluan Dinda, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Dinda. “A..aakkhhh…..”, sambil mengejan Paul melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.

Puas sudah dia menyetubuhi Dinda, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Dinda, puas dalam merobek keperawanan Dinda dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis 6cantik itu. Dinda menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya telah berejakulasi karena disakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Dinda sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Dinda yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali. Dengan mendesah puas Paul merebahkan tubuhnya diatas tubuh Dinda, kini kedua tubuh itu jatuh lunglai bagai tak bertulang. Tubuh Paul nampak terguncang-guncang sebagai akibat dari isak tangis dari Dinda yang tubuhnya tertindih tubuh Paul. Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Dinda, kini Paul mencabutnya seraya bangkit dari tubuh Dinda. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Dinda yang terlentang, kemaluannya yang nampak sudah melemas itu kembali sedikit- demi sedikit menegang disaat merapat kewajah Dinda. Dikala sudah benar-benar menegang, tangan kanan Paul sekonyong-konyong meraih kepala Dinda. Dinda yang masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan tindakan Paul.

Terlebih-lebih melihat batang kemaluan Paul yang telah menegang itu berkedudukan persis dihadapan wajahnya. Belum lagi sempat menjerit, Paul sudah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau Dinda berusaha berontak namun akhirnya Paul berhasil menanamkan penisnya itu kemulut Dinda. Nampak Dinda seperti akan muntah, karena mulutnya merasakan batang kemaluan Paul yang masih basah oleh cairan sperma itu. Setelah itu Paul kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Dinda, wajah Dinda memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Paul dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Dinda, sesekali juga dengan gerakan memutar-mutar. “Aahhhh….”, sambil memejamkan mata Paul merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur tubuhnya. Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya, “Oouuuuhhhh…Dinndaaaa…saya nggg… ..”, Paul mendesah panjang ketika kembali batang kemaluannya berejakulasi yang kini dimulut Dinda. Dengan terbatuk-batuk Dinda menerimanya, walau sperma yang dimuntahkan oleh Paul jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Dinda hingga meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan spermanya Paul mencabut batang kemaluannya dari mulut Dinda, dan Dindapun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk dia nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu namun sebagian besar sperma Paul tadi telah mengalir masuk ketenggorokannya. Saat ini wajah Dinda sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya.

Dengan wajah puas sambil menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Paulpun menyeringai melihat Dinda yang masih terbatuk-batuk. Paul memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenaganya. Sementara itu tubuh Dinda meringkuk dikasur sambil terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Dinda telah menunjukkan pukul 1 dinihari. Sambil santai Paulpun menyempatkan diri mengorek-ngorek isi laci lemari Dinda yang terletak disamping tempat tidur. Dilihatnya album foto- foto pribadi milik Dinda, nampak wajah-wajah cantik Dinda menghiasi isi album itu, Dinda yang anggun dalam pakaian seragam pramugarinya,nampak cantik juga dengan baju muslimnya lengkap dengan jilbab ketika foto bersama keluarganya saat lebaran kemarin dikota asalnya yaitu Bandung. Kini gadis cantik itu tergolek lemah dihadapannya, setengah badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak. Selain itu, ditemukan pula beberapa lembar uang yang berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Paul memasukkan itu semua kedalam kantung celana lusuhnya, “Sambil menyelam minum air”,batinnya. Setelah setengah jam lamanya Paul bersitirahat,kini dia bangkit mendekati tubuh Dinda. Diambilnya sebuah gunting besar yang dia temukan tadi didalam laci. Dan setelah itu dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari Dinda satu persatu.

Singkatnya kini tubuh Dinda telah telanjang bulat, rambutnyapun yang hitam lurus dan panjang sebahu yang tadi digelung rapi kini digerai oleh Paul sehingga menambah keindahan menghiasi punggung Dinda. Sejenak Paul mengagumi keindahan tubuh Dinda, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan Dinda. Tubuh Dinda nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali tergetar menantikan akan apa-apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Sementara itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu.

Udara dingin itulah yang kembali membangkitkan nafsu birahi Paul. Setelah hampir sejam lamanya memberi istirahat kepada batang kemaluannya kini batang kemaluannya kembali menegang. Dihampirinya tubuh telanjang Dinda, “Yaa…ampuunnn bangg…udah dong….Dinda minta ampunn bangg…oohhh….”, Dinda nampak memelas memohon-mohon kepada Paul. Paul hanya tersenyum saja mendengar itu semua, dia mulai meraih badan Dinda. Kini dibaliknya tubuh telanjang Dinda itu hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh itu hingga ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Dinda menyentuh lantai sementara dadanya masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur, Paulpun berada dibelakang Dinda dengan posisi menghadap punggung Dinda. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Dinda selebar bahu, dan…. “Aaaaaaaaakkkkhh………” , Dinda melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Paul menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Paul berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Setelah itu tubuh Dindapun kembali disodok-sodok, kedua tangan Paul meraih payudara Dinda serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya Paul menyodomi Dinda, waktu yang lama bagi Dinda yang semakin tersiksa itu. “Eegghhh….aakkhhh….oohhh.. .”, dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Dinda merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Paul. Paul kembali merasakan akan mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluan itu dari lobang anus Dinda dan dibaliklah tubuh Dinda itu hingga kini posisinya terlentang.

Secepat kilatpula dia yang kini berada diatas tubuh Dinda menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam vagina Dinda. “Oouuffffhhh……”,Dinda merintih dikala paul menanamkan batang kemaluannya itu. Tidak lama setelah Paul memompakan kemaluannya didalam liang vagina Dinda “CCREETT….CCRROOOT…CROOTT. ..”, kembali penis Paul memuntahkan sperma membasahi rongga vagina Dinda, dan Dindapun terjatuh tak sadarkan diri. Fajar telah menjelang, Paul nampak meninggalkan kamar kost Dinda dengan tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota,sementara itu sakunya penuh dengan lembaran uang dan perhiasan emas. Entah apa yang akan terjadi dengan Dinda sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih menjual mahal dirinya. Entahlah, yang jelas setelah dia berhasil menikmati gadis cantik itu, hal itu bukan urusannya lagi.




Mau Yang HOT HOT

CERITA SEXS TERBARU ~ OM BAYU MERENGGUT "KEPERAWANAN" KU

CERITA SEXS TERBARU ~ OM BAYU MERENGGUT "KEPERAWANAN" KU


 
Om Bayu Merenggut " Keperawanan " Ku 

Kali ini merupakan sebuah pengalamanku yang pernah aku rasakan saat aku bersama om om yang saya suka. Namaku Rini, usiaku sekarang 16 tahun, aku bersekolah di sebuah SMA yang termasuk besar di Jakarta. Kali ini akan kuceritakan tentang cerita panasku pengalaman ketika aku masih SMU dan belum tahu apapun tentang yang namanya seks. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman dewasa yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri. Peristiwa yang tak layak dilakukan ini yang disebut juga cerita panas ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 1 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap dengan dada yang bidang. Kejadian ini bermula ketika liburan semester. Waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginapa saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja. Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba- tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”. Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah. “Ayoo…”, sambutku dengan polos tanpa curiga. Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu. “Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”. Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh- sungguh akhirnya aku menurutinya. “Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring. Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.. biar Om gampang meriksanya”. Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal. “Wah… kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu. Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku dan aku hanya tertunduk malu. Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula ditempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut. “Waah… kulit kamu halus ya, Rin… kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu. Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap- usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut. Dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih… baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira… yah hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku. “Nah.. sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati. “Ih… Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup. “Lho… kan mau diperiksa.. pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu- bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii… aku jadi merinding rasanya. “Ooomm…”, suaraku lirih. “Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil tersenyum. Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas. “Aahh… Oooomm…”, jeritku lirih. “Sssstt… hmm… nikmat.. kan…?”, katanya. Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat kesana kemari. “Ssstthh… aahh… Ooomm… aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar- benar sangat terangsang sekali. Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku. Aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Hiii… rasanya jadi makin geli… apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian. Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh… gila… tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap diantara kedua kakiku yang otomatis terkangkang. Kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku. Kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku. “Aaa… Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannya itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait kesana kemari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi- jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan. “Aahh… Ooomm… jaangan… jaanggann… teeerruskaan… ituu… aa… aaku… nndaak… maauu.. geellii… stooopp… tahaann… aahh!”. Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana kemari antara mau dan tidak. Biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku diantara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana kemari namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan. Vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya. Hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis- habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi semakin kelonjotan. Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya lalu dijilatnya clitorisku. “Aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali. Aku merasa seperti kesetrum karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai mengangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap- hisapnya. “Aa… Ooomm… aauuhh… aahh… !”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya. “Ooomm… aa… !”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya. Disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas. Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula- mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mencuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku. Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada diantara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat, panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang dimana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu. Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan- lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke keseluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung. Aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku. “Gimana Rin… nikmat kan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya. Nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari- hari Om Bayu sangat sopan dan ramah. Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku. Hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku. Aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku. Tapi selang tak lama kemudian perlahan- lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku. Gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit. Seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi. Perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar. Tanpa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh… ssshh… aahh… ooohh… Ooomm… Ooomm… eennaak… eennaak… !” Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku. “Aadduuhh… saakkiiitt… Ooomm… sttooopp… sttooopp… jaangaan… diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat- geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku. Tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu. “Om… kenapa dimasukkan semua… kan… janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja. Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh… ssshh… ooohh… ooohh…” Dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku. Bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku. Sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku. Seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat. Tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik. Terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak berdaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai. Melihat keadaanku, Om Bayu makin terangsang. Dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya. Dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme. Dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut- denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan. “Ooohh… Riiinn… Riiinnn… aakkuu… maau… keluar!.. Ooohh… aahh… hhmm… ooouuhh!”. Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian… cret… crett… crett… spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa. “Aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum. “Terima kasih sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu. Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang. Perasaan- perasaan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi. Memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya. Aku hanya pura-pura ngobrol kesana kemari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertama kalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.TAMAT

Mau Yang HOT HOT

CERITA SEXS TERBARU ~ GEBETAN TEMEN EMANG HOT !!


CERITA SEXS TERBARU ~ GEBETAN TEMEN EMANG HOT !!


http://4.bp.blogspot.com/-8kz3bGoKWzA/UOxl7-5BTjI/AAAAAAAAABU/VmQ5F_nVk7M/s1600/1_cewek_cantik_seksi_hot_11.jpg

Gebetan Temen Emang Hot !!!
Nih saya posting cerita asli di kehidupan saya,... sebenernya sih gag tega sih saya nyerita'in kisah hidup saya tapi lumayan juga bikin " Burung " kamu - kamu semua bakalan naik :D ... oke langsung aja cekidot !

Saya mempunyai seorang teman cowok satu kantor di sebuah perusahaan swasta di kota Temanggung (Jawa Tengah). Dia biasa bertugas untuk menemui klien jika calon klien minta penjelasan mengenai penawaran yang kami berikan dari perusahaan. Kebetulan hari itu Sabtu, biasanya jarang sekali ada calon klien yang minta ditemui pada hari itu, tapi sekitar pukul 10 pagi ada telepon dari salah satu calon klien dari kota Parakan (lebih kurang jaraknya jika ditempuh dari kota Temanggung sekitar 45 menit) minta penjelasan mengenai penawaran yang kami berikan. Segera temanku (sebenarnya posisi dia dikantor adalah bawahanku, karena aku adalah kepala cabang) berangkat menuju Parakan bersama Andi (anak buahku juga). Tinggal kami bertiga dikantor, Saya, Indra dan Beni.

Sekitar jam 11.30 tiba-tiba datang seorang cewek, dia adalah Saras, kami tahu dia adalah pacarnya Anto. Kami persilahkan Saras untuk masuk dan menunggu Anto yang sedang ada dinas keluar. Saras juga bilang kalau memang disuruh Anto untuk menunggu dikantor. Saras waktu itu baru pulang dari kantornya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor kami. Kami berempat berbincang-bincang diruang tengah. Saras duduk di kursi meja kantor Anto. Saras mengenakan blazer warna coklat dengan rok span diatas lutut.

Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Saras, 21 tahun, mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran (kira-kira) 34B, dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kantoran.

Sekitar jam 12.15 tiba-tiba Anto telepon kantor memberi kabar kalau 2 roda belakang mobil yang dipakai mengalami kebocoran di jalan padahal posisi dia ada di tempat yang jauh dari pemukiman dan belum sampai ke tempat calon klien. Dia mencoba untuk mencari tempat tambal ban di dekat situ. Anto juga sempat bebincang dengan Saras untuk sabar menunggu.

Kami pun meneruskan perbincangan kami berempat. Dengan bercanda kami juga menggoda Saras dengan cerita-cerita mengenai hubungan dia dengan Anto. Diluar terlihat mulai mendung. Dan benar saja tidak beberapa lama kemudia turun hujan. Aku mencoba menghubungi HP Anto, dia masih mencari tempat tambal ban dan kehujanan juga. Kami teruskan pembicaraan.

“Saras, gimana “punya” Anto, gede nggak?”, tanya Indra menanyakan sesuatu yang membuat merah padam muka Saras.

“Ah...mas Indra...tanyanya kok gitu...rahasia dong”, jawab Saras malu-malu.

“Gedean mana kalo sama punya Pak Redi ....”, tanya Indra sambil menyebutkan namaku.

“Ah....mas Indra...”, jawab Saras lagi.

Pembicaraan seperti itu pun terus berlanjut. Kami semakin memojokkan Saras dengan pertanyaan-pertanyaan menjurus sex. Kami juga tahu kalau Saras sudah sering berhubungan badan dengan Anto dari cerita Anto sendiri. Dan hal itupun tidak kami tutupi dalam pertanyaan untuk memojokkan Saras.

"Eh, kalian berdua jangan “nganggurin” Saras gitu donk, kasih Saras “minum” ..!" perintahku kepada Indra dan Beni dengan perintah simbolis. Rupanya Indra dan Beni tahu apa maksudku.

"Oh iya, sori Saras, maaf Boss.....!" jawab Beni sekenanya sambil pura-pura berjalan menuju belakang ,padahal dia berjalan kearah belakang kursi Saras dan hal itu tidak disadari Saras. Diluar hujan semakin deras!

Dengan gerakan kilat Beni merangkul Saras dari belakang....
"Gini..," kata Beni dengan mendekap erat Saras. "Kamu pikir deh Saras... umurmu baru 21 dan bodymu sexy, ngga kecewa donk kami nyobain kamu" lanjut Beni semakin erat mendekap Saras yang meronta dan terkejut mendapat perlakuan seperti itu.

"Ah ... apa-apaan ini" teriak Saras , sehingga tampaklah wajahnya yang ketakutan.

Hal ini semakin membuat kami bertiga jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Indra menarik kaki Saras.
"Diam...sebentar Sar..!" perintahku sambil mencoba melepas kancing blazer yang Saras pakai.
Lalu Indra dengan terburu buru ikut mencoba melepas rok yang dipakai Saras dan sambil bicara kepada saya, "Dah boss ditidurin aja dulu di lantai”.

Saras semakin meronta dan coba berteriak tapi dekapan tangan Beni dan Indra membungkam erat mulut Saras. Dan teriakan lenyap ditelan suara derasnya hujan.

"Sudah kamu ngga usah melawan, yang penting sekarang kamu santai aja di lantai dan ikutin permainan kami" timpalku.

"Permainan apa .....?" tanya Saras dengan ketakutan.

Tapi kami senang sekali, apalagi saya melihat Saras seperti ini. Saya jadi tambah horny....

"Ok-ok ..baik..," kata Saras tiba-tiba, “Kalian semua sudah tahu kalau aku sering berhubungan badan dengan mas Anto....tapi jangan ceritakan kejadian ini... aku mau melayani permainan kalian...”, kata Saras membuat kami bertiga terkejut mendengarnya.

Tiba-tiba saja Saras langsung mendekati saya dan segera menciumi saya di bibir.. Otomatis saya merespon. Lidah kami saling 'bergerilya'. Kemudian ciuman Saras berganti ke bibir Beni, hm.. enaknya pikirku. Dan berganti lagi ke bibir Indra. Aku jilati leher Saras, terus dia juga menjilati kuping Indra.
Tanpa sadar Saras mendesah, "Ahh, enak, Mas... terus..!"

"Sekarang aku buka baju kamu....! Tapi tangan kamu tetap diam.... boleh pegangan jalantol Beni atau Indra ..!" kataku.
"Aduh dingin dong..! Masa mau ML saya yang ditenjangi dulu..!" jawab Saras.

Dengan cepat aku membuka baju Saras dan langsung aku lempar. Dengan sigapnya Indra dan Beni langsung bergerilya di dada Saras. Dinaikkannya BH Saras sehingga mereka berdua bisa menggigit kedua puting Saras.
"Ahh, enak gigitannya...." Saras mendesah pelan. Samar-samar saya melihat Saras sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Sekarang tangan saya mencoba mencari buah dada Saras untuk saya remas-remas.

Beni dan Indra segera menuju bagian bawah tubuh Saras.

"Pokoknya santai saja Sar...!" kata Beni sambil menaikkan rok yang dikenakan Saras.
"Hmm.., CD model low cut dengan warna hitam nih..!" ujar Indra sambil bergumam melihat CD yang dipakai Saras.
"Kamu tahu saja kesukaan kami..!" kata Indra, "Dan kamu seksi banget dengan CD warna ini, bikin kita horny....!" kataku. Dan sekarang Saras sudah berjongkok untuk dia mulai ber-'karaoke'.
"Oohh, enak, sedot lagi yang kuat Sar..!" kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 15 menit Saras telah ber-'karaoke' terhadap pen|s kami bertiga. Kemudian Saras dengan perlahan melepas sendiri seluruh baju, rok dan pakaian dalamnya.
"Sekarang...sentuh tubuh telanjangku....!" kata Saras memerintah kami bertiga. Kesempatan ini tidak kami sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Saras di lantai dan saya jilati vaginanya, dan Beni juga tidak kalah ganasnya menyedot habis kedua putting Saras sedangkan Indra melumat habis bibir Saras. .Samar-samar saya mendengar Saras mulai mendesah.

Kali ini saya gantian ke buah dada Saras, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun puting Saras. Dan Saras kemudian bicara, "Ayo isep... puting saya..!"
"Wah ini saatnya ..!" pikir saya dalam hati.
"Kamu minta diisep puting kamu..!" jawab saya sambil tersenyum. Saya lihat Bani dan Indra tersenyum melihat Saras terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dada Saras, saya turun lagi ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Saras yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina Saras.
"Ohh.. enakk..! Terus donk Mas..!" sahut Saras sambil mendesah. Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

"Ahh....aku mau keluar," lirih Saras.
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Saras keluar diiringin teriakan dari Saras.
"Mas, kamu kok hebat ....mainin memekku..?" kata Saras terputus-putus.
Saya hanya tersenyum saja.
"Masukin punya mas...sekarang..!" pinta Saras.
"Nanti dulu, puting kamu aku isep lagi..!" jawab saya.
Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencangnya secara bergantian, kiri dan kanan.

"Ahh, enakk mas..! Kencang lagi..!" teriak Saras.
Mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny, apalagi penisku sudah dari tadi menunggu giliran 'masuk'. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vagina Saras.
"Sempit banget memek Saras...!" pikir saya dalam hati.
Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga penis saya ke vagina Saras
"Sar...memek kamu enak dan sempit ...." kata saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Saras yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Saras yang terus mendesah dan teriak.
"Terus mas... tambah cepet ..!"
Dan sekilas di samping saya tampak Beni dan Indra dengan pen|s mereka sudah menegang.

"Sabar ...tunggu giliran kalian, sekarang aku beresi dulu memek Saras ini..!" jawab saya sambil sambil menggoyangkan Saras. Beni dan Indra hanya menganggukan kepala.

Tidak lama kemudian Saras minta ganti posisi, kali ini dia mau di atas.
Kami pun berganti posisi.
"Ahh.., enakk.., penis mas terasa banget didalam..!" teriak Saras sambil merem melek.

5 menit kemudian Saras teriak, "Ahh.., aku keluar lagi..!" dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya belum keluar. Akhirnya saya ganti dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Saras menjerit, "Terus... mas..!"
Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.
"Sar, mau keluarin dimana..?" tanya saya.
"Di muka saya saja." jawabnya cepat.

Kemudian, "Croott.., crott..!" sperma saya saya keluarkan di wajah Saras. Kemudian Saras dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Saya melihat Beni dan Indra meremas penis masing-masing dan dia pun melihat Saras dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti saya.

Tiba-tiba saja Indra mencium Saras dengan ganasnya. Secara otomatis Saras membalasnya. Kemudian ciuman Indra mulai turun ke leher Saras dan dada Saras. Saras hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada Saras diremas-remas oleh Indra dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

"Hmm.., vagina kamu bakal aku bikin basah lagi.....!" kata Indra dengan suara menggoda.
Kemudian tanpa diperintah Indra segera mencium dan menjilati vagina Saras dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.
"Ahh.. ahh.. ahh.., enak mas..!" timpal Saras.

Kemudian Beni tidak mau kalah, segera Beni raih buah dada Saras dan segera menghisapnya. Beni mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, Beni juga remas-remas buah dada Saras.
"Yang kencang mas..!" kata Saras lirih.
Kurang lebih 5 menit Beni memainkan dada Saras, kemudian Beni turun ke vaginanya. Tampaklah vag|na Saras yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

"Memek kamu sudah basah Sar.., sudah ngga tahan yach..?" kata Beni sambil tersenyum.
Saras hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian Beni mendekatkan mulutnya ke depan vagina Saras, dan langsung Beni hisap jilati vag|na Saras
"Teruss..! Enak...mas!" itulah suara yang terdengar dari mulut Saras.

Setelah 10 menit Beni memainkan vag|na Saras, Beni melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera Beni memasukkan penisnya ke dalam vag|na Saras.
"Pelan-pelan....!" kata Saras.
Beni hanya tersenyum dan segera mencium Saras, dan Saras pun membalasnya dengan penuh semangat.

Bless, seluruh pen|s Beni kini berada di dalam vag|na Saras. Dan tanpa dikomando lagi Beni segera bergerak diikuti goyangan pinggul Saras. Saras memeluk Beni begitu eratnya dan Beni memperhatikan wajah Saras yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Saras ingin berganti posisi.
"Gantian dogy ...!" pinta Saras
Beni turuti saja kemauan Saras.
"Bless, bless.., bless..!" sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Saras sudah basah dan menurut Beni, Saras tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan Beni, tiba-tiba saja Saras teriak, "Ah.., ahh.., ahh.., aku keluar..!"
Kemudian Saras langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis Beni masih tertancap dalam vagina Saras. Beni segera menggerakkan penisnya supaya dapat juga segera keluar. Tidak lama Beni terasa ingin keluar.
"Keluarin di mana Sar..?" tanya Beni.
"Di dalam .....!" jawab Saras dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, "Crott, crott..!" pen|s Beni segera mengeluarkan semburan spermanya.
"Ahh..!" Beni bersuara dengan keras, "Enak....!" lanjut Beni.
Kemudian Beni langsung rebah di sebelah kanan Saras, sementara Indra tersenyum memperhatikan mereka berdua karena belum mencicipi Saras.
"Wah capek kamu Saras..?" tanya Indra.
Saras yang sudah lemas hanya dapat tersenyum.

Setelah istirahat beberapa menit, Saras melanjutkan meladeni permainan Indra.

Tanpa terasa hampir 3 jam kami menikmati tubuh Saras. Setelah selesai kira-kira setengah jam sebelum jam 4 sore Anto datang.

Kami hanya tersenyum melihat Anto mencium pipi Saras dengan sayang.TAMAT

Mau Yang HOT HOT