Pendekatan Whole Language Bahasa Indonesia

Pendekatan Whole Language Bahasa Indonesia



Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language , pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama. Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).

Ciri-ciri Kelas Whole Language

Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language

a. Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku petunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.

b. Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.

c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.

d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.

e. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.

f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.

g. Siswa mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri. Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.

Penilaian dalam Kelas Whole Language

Dalam kelas whole language guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Secara informal selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok maupun diskusi kelas. Ketika siswa bercakap-cakap dengan temannya atau dengan guru, penilaian juga dilakukan. Bahkan, guru juga memberikan penilaian saat siswa bermain selama waktu istirahat. Kemudian, penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi. Walaupun guru tidak terlihat membawa-bawa buku, guru menggunakan alat penilaian seperti lembar observasi dan catatan anekdot. Dengan kata lain, dalam kelas whole language guru memberikan penilaian pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain penilaian informal, penilaian juga dilakukan dengan menggunakan portofolio. Portofolio adalah kumpulan hasil kerja selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.
Mau Yang HOT HOT

Pendekatan Ketrampilan Proses Bahasa Indonesia

Pendekatan Keterampilan Proses Bahasa Indonesia

1. Pengertian Pendekatan Ketrampilan Proses


Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut” (Azhar, 1993: 7)

Sedangkan “menurut Conny (1990 : 23) pendekatan keterampilan proses adalah pengembangan sistem belajar yang mengefektifkan siswa (CBSA) dengan cara mengembangkan keterampilan memproses perolehan pengetahuan sehingga peserta didik akan menemukan, mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut dalam tujuan pembelajaran khusus”.


Berdasarkan uraiaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan dasar berupa mental fisik, dan sosial untuk menemukan fakta dan konsep maupun pengembangan sikap dan nilai melalui proses belajar mengajar yang telah mengaktifkan siswa (CBSA) sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik.


Dimiyati (2002: 138) mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa adalah :


Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan


Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan.


Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu pengetahuan membuat siswa belajar proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus.


Dari pembahasan tentang pengertian keterampilan proses (PKP) dapat diartikan bahwa pendekatan keterampilan proses dalam penerapannya secara langsung memberikan kesempatan siswa untuk secara nyata bertindak sebagai seorang ilmuan karena penerapan pendekatan keterampilan proses menekankan dalam memperoleh ilmu pengetahuan siswa hendaknya menanamkan sikap dan nilai sebagai seorang ilmuan.



2. Pentingnya Pendekatan Keterampilan Proses


Menurut Dimiyati, mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:


Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi


Pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar didapatkan agar hasil belajar yang optimal


Penerapan sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ini. (Dimiyati, 2002: 137)

Pembinaan dan pengembangan kreatifitas berarti mengaktifkan murid dalam kegiatan belajarnya. Untuk itu cara belajar siswa aktif (CBSA) yang mengembangkan keterampilan proses yang dimaksud dengan keterampilan di sini adalah kemampuan fisik dan mental yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan lain dalam individu.


Sedangkan Conny (1990 : 14). mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang melandasi perlu diterapkan pendekatan keterampila proses (PKP) dalam kegiatan belajar mengajar yaitu:


Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.


Para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa anak-anak muda memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh kongkrit.


Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat relatif benar seratus persen penemuannya bersifat relatif


Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskand ari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.

3. Pola Pelaksanaan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP)


Dalam pola pelaksanaan keterampilan proses, hendaknya guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


a. Asas pelaksanaan keterampilan proses


Menurut (Azhar, 1993) dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


Harus sesuai dan selalu berpedoman pada tujuan kurikuler, serta pembelajaran yang berupa TPU dan TPK.


Harus berpegang pada dasar pemikiran bahwa semua siswa mempunyai kemampuan (potensi) sesuai dengan kudratnya.


Harus memberi kesempatan, penghargaan dan movitasi kepada peserta didik untuk berpendapat, berfikir dan mengungkapkan perasaan dan pikiran.


Siswa pembinaan harus berdasarkan pengalaman belajar siswa.


Perlu mengupayakan agar pembina mengarah pada kemampuan siswa untuk mengola hasil temuannya.


Harus berpegang pada prinsip "Tut Wuri Handayani". Memperhatikan azas-azas tersebut, nampaknya yang menjadi titik perkenannya adalah siswa itu adalah siswa itu sendiri sebagai subyek didik dan juga guru dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses benar-benar memperkirakan perbedaan masing-masing siswa.


b. Bentuk dan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses (PKP)


Untuk melaksanakan pendekatan keterampilan proses kepada peserta didik secara klasikal. Kelompok kecil ataupun individual. Maka kegiatan tersebut harus mengamati kepada pembangkitan kemampuan dan keterampilan mendasar baik mental, fisik maupun sosial (menurut Funk dalam Dimiyati, 1999). Adapun keterampilan yang mendasar dimaksud adalah :



a. Mengamati/observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu keterampilan ilmiah yang paling mendasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain (Funk 1985 dalam Dimiyati, 1909 :142).


Kegiatan mengamati, menurut penulis dapat dilakukan dengan panca indera seperti melihat, mendengar, meraba, mencium dan mengecap. Hal ini sejalan dengan pendapat (Djamarah, 2000 :89). Bahwa "kegiatan mengamati dapat dilakukan peserta didik melalui kegiatan belajar, melihat, mendengar, meraba, mencicip dan mengumpulkan dan atau informasi.


Jadi kegiatan mengamati merupakan tingkatan paling rendah dalam pengembangan keterampilan dasar dari peserta didik, karena hanya sekedar pada penglihatan dengan panca indera. Pada dasarnya mengamati dan melihat merupakan dua hal yang berbeda walaupu sekilas mengandung pengertian yang sama. Melihat belum tentu mengamati, karena setiap hari mungkin peserta didik melihat beraneka ragam tanaman, hewan, benda-benda lain yang ada di sekitarnya, tetapi sekedar melihat tanpa mengamati bagaimana sebenarnya tanaman, hewan tersebut berkembang dari kecil hingga menjadi besar.





b. Mengklasifikasikan


Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilih berbagai obyek peristiwa berdasarkan

sifat-sifat khsususnya. Sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari obyek yang dimaksud, (Dimiyati, 1999 :142).


Untuk melakukan kegiatan mengkalasifikasik menurut Djamarah adalah "peserta didik dapat belajar melalui proses : mencari persamaan (menyamakan, mengkombinasikan, menggolongkan dan mengelompokkan( Djamarah, 2000 : 89).


Melalui keterampilan mengklasifikasi peserta didik diharapkan mampu membedakan, menggolongan segala sesuatu yang ada di sekitar mereka sehingga apa yang mereka lihat sehari-harii dapat menambah pengetahuan dasar mereka.





c. Mengkomunikasikan


Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai "menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep dan prinsip ilmu pengetahua dalam bentuk suara, visual atau secara visual" (Dimiyati, 1993:143). Kegiatan mengkomunikasi dapat berkembanga dengan baik pada diri peserta didik apabila mereka melakukan aktivitas seperti : berdiskusi, mendeklamasikan, mendramatikan, bertanya, mengarang, memperagakan, mengekspresikan dan melaporkan dalam bentuk lisan, tulisan, gambar dan penampilan” (Djamarah, 2000).

Dari pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa mengkomunikasikan bukan berarti hanya melalui berbicara saja tetapi bisa juga dengan gambar, tulisan bahkan penampilan dan mungkin lebih baik dari pada berbicara.



d. Mengukur


Keterampilan mengukur sangat penting dilakukan agar peserta didik dapat mengobservasi dalam bentuk kuantitatif. Mengukur dapat diartikan "membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan" (Dimiyati, 1999 : 144).


Adapun kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan mengukur peserta didik menurut Conny (1992 :21). Dapat dilakukan dengan cara mengembangkan sesuatu, karena pada dasarnya mengukur adalah membandingkan, misalnya saja siswa membandingkan luas kelas, volume balok, kecakapan mobil dan sebagainya.


Kegiatan pengukuran yang dilakukan peserta didik berbeda-beda tergantung dari tingkat sekolah mereka, karena semakin tinggi tingkat sekolahnya maka semakin berbeda kegiatan pengukuran yang dikerjakan.



e. Memprediksi


Memprediksi adalah "antisipasi atau perbuatan ramalan tentang sesuatu hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang, berdasarkan perkiraan pada pola kecendrungan tertentu, atau hubungan antara fakta dan konsep dalam ilmu pengetahuan" (Dimiyati, 1999: 144).


Menurut (Djamarah, 2000) untuk mengembangkan keterampilan memprediksi dapat dilakukan oleh peserta didik melalui kegiatan belajar antisipasi yang berdasarkan pada kecendrungan/pola. Hubungan antara data, hubungan informasi. Hal ini dapat dilakukan misalnya memprediksi waktu tertibnya matahari yang telah diobservasi, memprediksikan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu dengan menggunakan kendaraan dengan yang berkecepatan tertentu.


Pada prinsipnya memprediksi, observasi dan menarik kesimpulan merupakan tiga hal yang berbeda, hal tersebut dapat dibatasi sebagai berikut : "kegiatan yang dilakukan melalui panca indera dapat disebut dengan observasi dan menarik kesimpulan dapat diungkapkan dengan, mengapat hal itu bisa terjadi sedangkan kegiatan observasi yang telah dilakukan apa yang akan diharapkan".



f. Menyimpulkan


Menyimpulkan dapat diartikan sebagai "suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu. Objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui (Dimiyati, 1999: 145).


Kegiatan yang menampakkan keterampilan menyimpulkan misalnya: berdasarkan pengamatan diketahui bahwa lilin mati setelah ditutup dengan gelas rapat-rapat. Peserta didik dapat menyimpulkan bahwa lilin bisa menyala apabila ada oksigen. Kegiatan menyimpulkan dalam kegiatan belajar mengajar dilakukan sebagai pengembangan keterampilan peserta didik yang dimulai dari kegiatan observasi lapangan tentang apa yang ada di alam ini.





c. Langkah-langkah melaksanakan keterampilan proses


Untuk dapat melaksanakan kegiatan keterampilan proses dalam pembelajaran guru harus melakuka langkah-langkah sebagai berikut:



1. Pendahuluan atau pemanasan


Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan agar mereka siap, baik mental emosional maupun fisik.


Kegiatan pendahuluan atau pemanasan tersebut berupa:


Pengulasan atau pengumpulan bahan yang pernah dialami peserta didik yang ada hubungannya dengan bahan yang akan diajarkan.


Kegiatan menggugah dan mengarahkan perhatian perserta didik dengan mengajukan pertanyaan, pendapat dan saran, menunjukkan gambar atau benda lain yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.

2. Pelaksanaan proses belajar megnajar atau bagian inti


Dalam kegiatan proses pembelajaran suatu materi, seperti yang dikemukakan di depan hendaknya selalu mengikutsertakan secara aktif akan dapat mengembangkan kemampuan proses berupa mengamati, mengklasifikasi, menginteraksikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, merencanakan dan melaksanakan penelitian serta mengkunikasikan hasil perolehannya yang pada dasarnya telah ada pada diri peserta didik.


Sedangkan menurut Djamarah (2002 :92) kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam langkah-langkah proses belajar mengajar atau bagian inti yang bercirikan keterampilan proses, meliputi :


Menjelaskan bahan pelajaran yang diikuti peragakan, demonstrasi, gambar, modal, bangan yang sesuai dengan keperluan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mengamati dengan cepat, cermat dan tepat.


Merumuskan hasil pengamatan dengan merinci, mengelompokkan atau mengklasifikasikan materi pelajaran yang diserap dari kegiatan pengamatan terhadap bahan pelajaran tersebut.


Menafsirkan hasil pengelompokkan itu dengan menunjukkan sifat, hal dan peristiwa atau gejala yang terkandung pada tiap-tiap kelompok.


Meramalkan sebab akibat kejadian perihal atau peristiwa lain yang mungkin terjadi di waktu lain atau mendapat suatu perlakuan yang berbeda.


Menerapkan pengetahuan keterampilan sikap yang ditentukan atau diperoleh dari kegiatan sebelumnya pada keadaan atau peristiwa yang baru atau berbeda.


Merencanakan penelitian umpamanya mengadakan percobaan sehubungan dengan masalah yang belum terselesaikan.


Mengkomunikasikan hasil kegiatan pada orang lain dengan diskusi, ceramah mengarang dan lain-lain.


3. Penutup


Setelah melaksanakan proses belajar tersebut, hendaknya sebagai seorang pendidik untuk


Mengkaji ulang kegiatan yang telah dilaksanakan serta merumuskan hasil yang telah diperolehnya


Mengadakan tes akhir


Memberikan tugas-tugas lain
Mau Yang HOT HOT

Pendekatan Terpadu Bahasa Indonesia

Pendekatan Terpadu Bahasa Indonesia

A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Terpadu

Beberapa pengertian dari pendekatan terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pendekatan pembelajaran terpadu diantaranya :

1. Menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pendekatan pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu:

a. Kurikulum terpadu (integrated curriculum) adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada.

b. Hari terpadu (integrated day) berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka.

c. Pendekatan Pembelajaran terpadu (integrated learning) menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of interest).




2. Menurut Prabowo (2000 : 2), pendekatan pembelajaran terpadu adalah suatu proses pendekatan dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi.

Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pendekatan pembelajaran terpadu di atas, yaitu konsep pendekatan pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.

Pendekatan pembelajaran terpadu adalah suatu pembelajaran yang mengintegrasikan/ mengkaitkan tema-tema yang over laping untuk dikemas menjadi satu tema besar kemudian dibahas dalam suatu pembelajaran. Pendekatan pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik. Pelaksanaan pendekatan terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar tidak digunakan secara terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kesatuan bahan yang utuh dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik.

Model Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dapat diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan. Model Pendekatan pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik. Melalui pendekatan terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3)

Menurut Forgarty (1991:4-5) menyatakan 10 model pembelajaran terpadu. Model-model itu adalah sebagai berikut:


a. Model Fragmented
Model ini adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara terpisah yaitu hanya

terfokus pada satu disiplin mata pelajaran, misalnya, mata pelajaran Matematika,

IPA, IPS, Bahasa, dan sebagainya yang diajarkan secara terpisah.


b. Model Terhubung (connected)
Model keterhubungan adalah model pembelajaran terpadu yang secara sengaja

diusahakan untuk menghubungkan satu topik dengan topik yang lain dalam satu

bidang studi, misalnya, menghubungkan konsep dengan kosep menulis dalam mata

pelajaran Bahasa Indonesia.


c. Model Nested
Pembelajaran terpadu model nested adalah suatu model pembelajaran terpadu yang

kaya dengan rancangan oleh kemampuan guru.


d. Model Sequenced
Sequenced adalah model pembelajaran terpadu di mana pada saat guru

mengajarkan suatu mata pelajaran maka ia dapat menyusun kembali urutan topik

suatu mata pelajaran dan dimasukkannya topik mata pelajaran lain ke dalam urutan

pengajarannya itu, tentu saja dalam topik yang sama atau relevan. Pada intinya satu

mata pelajaran membawa serta pelajaran lain dan sebaliknya.


e. Model Shared
Shared adalah suatu model pembelajaran terpadu di mana pengembangan disiplin

ilmu yang memayungi kurikulum silang, contohnya, Matemaika dan IPA

disejajarkan sebagai ilmu pengetahuan. Kesusastraan dan Sejarah digabung pada

label kemanusiaan, seni, musik, menari dan drama di bawah payung kesenian yang

pokok, teknologi komputer dan industri rumah tangga sebagai kesenian yang perlu

dipraktikan.
f. Model Webed
Webed adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan

tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema

tertentu misalnya, transportasi. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru

dengan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema

disepakati, kemudian dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan

kaitan dengan bidang-bidang studi lainnya. Dari sub-sub tema ini dikembangkan

aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa.


g. Model Threaded
Threaded adalah suatu model pendekatan seperti melihat melalui teropong di mana

titik pandang (focus) dapat mulai dari jarak terdekat dengan mata sampai titik

terjauh dari mata.
h. Model Integrated
Integrated adalah model pembelajaran yang menggunakan pendekatan antar bidang

studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara

menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, prinsip, dan

sikap saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi.
i. Model Immersed
Model ini dimaksudkan dengan menyaring dari seluruh isi kurikulum dengan

menggunakan suatu cara pandang tertentu. Misalnya, seseorang memadukan semua

data dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran) kemudian menampilkannya

melalui sesuatu yang diminatinya dalam suatu ide.
j. Model Networked
Networked adalah model pembelajaran terpadu yang berhubungan dari sumber luar

sebagai masukan dan semuanya meningkatkan yang baru dan meluaskan ide-ide

atau mengembangkan ide-ide. Misalnya, seorang arsitek mengadaptasi teknologi

untuk mendesain network dengan teknik program dan meluaskan pengetahuan

dasar seperti dia telah mengerjakan secara tradisional dengan pendisain bagian

dalam ruangan









B. Ciri-ciri pendekatan pembelajaran terpadu.

Dalam pendekatan pembelajaran terpadu terdapat beberapa ciri-ciri, yaitu:

1. Berpusat pada anak (student centered).

2. Proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung.

3. Pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas




C. Kelebihan dan kekurangan pendekatan terpadu.

Ø Pendekatan pembelajaran terpadu memiliki beberapa kelebihan (Depdikbud, 1996) sebagai berikut :

1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.

2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.

4. Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.

5. Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai dengan lingkungan anak.

6. Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.




Ø Pendekatan pembelajaran terpadu memiliki beberapa kekurangan, yaitu sebagai berikut:

1. Pendekatan terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses.

2. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut.

3. Penerapan pendekatan pembelajaran terpadu banyak menimbulkan masalah dan tugas guru menjadi semakin membengkak.

4. penyesuaian pola penerapan dan hasil pembelajaran terpadu dikaitkan dengan kurikulum yang sedang berlaku.

D. Langkah-langkah mempersiapan pendekatan pembelajaran terpadu

v Langkah-langkah dalam mempersiapkan pendekatan pembelajaran terpadu adalah:

1. Menganalisis Standar Isi. Dalam rangka implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta untuk memenuhi ketercapai pembelajaran, maka terlebih dahulu dilakukan analisis standar isi setiap mata pelajaran, kemudian dipilih materi pada standar isi mata pelajaran lain yang dapat berintegrasi dengan mata pelajaran tersebut. Dalam menganalisis standar isi dilakukan pemetaan kompetensi yang dapat dipadukan dari masing-masing Kompetensi Dasar dari mata pelajaran pada satu KMP.

2. Menyusun bahan ajar, yang mengacu kepada standar isi pendidikan kesetaraan yang telah dianalisis dan diramu dengan mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang memiliki tema yang sama/overlapping. Bahan ajar dapat berbentuk modul atau bahan belajar lainnya.

3. Merancang Pembelajaran Terpadu, yaitu membuat rencana pembelajaran secara tertulis sebagai pedoman operasional yang akan menjadi pedoman bagi tutor dalam melakukan kegiatan pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran terpadu. Langkah-langkah yang ditempuh dalam membuat rencana pembelajaran terpadu tersebut adalah:

a. Menetapkan tema sentral pembelajaran yang akan berfungsi sebagai alat pengait pembelajaran.

b. Merumuskan kompetensi atau tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik.

c. Mengidentifikasi konsep-konsep yang memiliki sifat keterkaitan baik yang terdapat dalam intra maupun antar mata pelajaran yang akan diintegrasikan.




d. Merumuskan skenario pembelajaran yang akan dilakukan

e. Menetapkan alat evaluasi yang akan dilakukan.

4. Penerapan konsep. Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan peserta didik sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga peserta didik dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari.

E. Prinsi-prinsip pendekatan pembelajaran terpadu

Dalam pendekatan terpadu terdapat beberapa Prinsip dasar pendekatan pembelajaran terpadu, yaitu:

1. Prinsip penggalian tema

Penggalian tema tersebut hendaknya memperhatikan beberapa persyaratan, yaitu:

a. Tema hendaknya tidak terlalu luas.

b. Tema harus bermakna.

c. Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis.

d. Tema yang dikembangkan harus mewadahi sebagian besar minat anak.

2. Prinsip pengelolahan pembelajaran

Menurut Prabowo (2000),bahwa dalam pengelolahan pembelajaran hendaknya guru dapat berlaku sebagai:

a. Guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar.

b. Memberi tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok.

c. Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.

3. Prinsip evaluasi

Untuk melaksanakan evaluasi dalam pembelajaran terpadu, maka diperlukan langkah-langkah positif, yaitu:

a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (self evaluation/self assement).

b. Guru perlu mengajak para siswa untuk megevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan di capai.

4. Prinsip reaksi

F. Pentingnya pendekatan pembelajaran terpadu

Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya pendekatan pembelajaran terpadu, yaitu:

1. Dunia anak adalah dunia nyata.

2. Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/objek lebih terorganisir.

3. Pembelajaran akan lebih bermakna.

4. Memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri.

5. Memperkuat kemampuan yang diperoleh.

6. Efisiensi waktu.
Mau Yang HOT HOT

Pendekatan Tujuan dan Struktural Bahasa Indonesia

Pendekatan Tujuan dan Struktural Bahasa Indonesia


Pendekatan adalah cara memulai sesuatu. Pendekatan dalam pembelajaran bahasa adalah seperangkat asumsi tentang hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan proses belajar bahasa.

Pendekatan dalam pembelajaran bahasa antara lain:

1. Pendekatan Tujuan

Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu adalah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan, untuk mencapai tujuan itu sendiri. Misalnya untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada pendekatan tujuan, maka yang penting ialah tercapainya tujuan yakni siswa memiliki kemampuan mengarang.

Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas”. Dengan “cara belajar tuntas”, berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penentuan keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif. Jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75% dari soal yang diberikan guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.

2. Pendekatan Struktural

Pendekatan Struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, mofologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Dengan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.

3. Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar. Keterampilan proses meliputi keterampilan intelektual, keterampilan sosial, dan keterampilan fisik. Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep.







Konsep yang telah ditemukan atau dikembangkan berfungsi pula sebagai penunjang keterampilan proses. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan pengembangan konsep dalam proses belajar mengajar menghasilkan sikap dan nilai dalam diri siswa. Tanda-tandanya terlihat pada diri siswa seperti teliti, kreatif, kritis, objektif, tenggang rasa, bertanggung jawab, jujur, terbuka, dapat bekerja sama, rajin, dan sebagainya.

Keterampilan proses dibangun sejumlah keterampilan-keterampilan. Karena itu pencapainnya atau pengembangannya dilaksanakan dalam setiap proses belajar mengajar dalam semua mata pelajaran. Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik sendiri. Karena itu dalam penjabaran keterampilan proses dapat berbeda pada setiap mata pelajaran.

Pendekatan ini merupakan pemberian/menumbuhkan kemampuan-kemampuan dasar untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan yang meliputi beberapa kemampuan seperti:

a. Kemampuan mengamati

b. Kemampuan menghitung

c. Kemampuan mengukur

d. Kemampuan mengklasifikasi

e. Kemampuan menemukan hubungan

f. Kemampuan membuat prediksi

g. Kemampuan melaksanakan penelitian

h. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data

i. Kemampuan mengkomunikasikan hasil

Keterampilan proses berkaitan dengan kemampuan. Oleh karena itu penerapan keterampilan proses diletakkan dalam kompetensi dasar. Keterampilan proses juga dikenali pada instruksi yang disampaikan oleh guru kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu.

Contoh:

Kompetensi Dasar: Siswa dapat menyusun sebuah pengumuman sebagai sarana menyampaikan informasi (keterampilan proses yang tersirat dalam kompetensi dasar adalah mengkomunikasikan)

4. Pendekatan Whole Language

Whole language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991; Froese,1990; Goodman,1986; Weaver,1992). Whole language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran. Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diajarkan secara terpadu.

Menurut Routman (1991) dan Froese (1991) ada delapan komponen:

1. Reading Aloud

Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Manfaat yang didapat dari reading aloud antara lain meningkatkan keterampilan menyimak,





memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan menumbuhkan minat baca pada siswa.

2. Jurnal Writing

Melalui menulis jurnal, siswa dilatih untuk lancar mencurahkan gagasan dan menceritakan kejadian di sekitarnya, menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Banyak manfaat yang diperoleh dari menulis jurnal antara lain:

a. Meningkatkan kemampuan menulis

b. Meningkatkan kemampuan membaca

c. Menumbuhkan keberanian menghadap risiko

d. Memberi kesempatan untuk membuat refleksi

e. Memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi

f. Memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis

g. Meningkatkan kemampuan berpikir

h. Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis

i. Menjadi alat evaluasi

j. Menjadi dokumen tertulis

3. Sustained Silent Reading

Sustained Silent Reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan siswa. Siswa dibiarkan untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan bacaan tersebut. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah:

a. Membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan

b. Membaca dapat dilakukan oleh siapapun

c. Membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut

d. Siswa dapat membaca dan berkonsentrasi pada bacaannya dalam waktu yang cukup lama

e. Guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca

f. Siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan SSR berakhir

4. Shared Reading

Shared Reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya.

Ada beberapa cara melakukan kegiatan ini:

a. Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah)

b. Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku

c. Siswa membaca bergiliran

Maksud kegiatan ini adalah:

a. Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membaca sebagai model







b. Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya

c. Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca yang benar

5. Guided Reading

Guided reading disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama.

6. Guided Writing

Guided Writing atau menulis terbimbing, peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik.

7. Independent Reading

Independent Reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berkesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas

merupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent reading, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dam pemberi respons.

8. Independent Writing

Independent Writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, kebiasaan menulis, dan kemampuan berpikir kritis. Jenis menulis yang termasuk independent writing antara lain menulis jurnal dan menulis respons.

CIRI-CIRI KELAS WHOLE LANGUAGE

Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language:

a. Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan.

b. Siswa belajar melalui model atau contoh

c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya

d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran

e. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran

f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen

g. Siswa mendapat balikan (feedback) positif baik dari guru maupun temannya

PENILAIAN DALAM KELAS WHOLE LANGUAGE

Di dalam kelas whole language, guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan siswa. Secara informal selama pembbelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan, berdiskusi baik dalam kelompok ataupun diskusi kelas. Penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi, alat penilaiannya seperti observasi dan catatan anecdote. Selain penilaian informal, penilaian dilakukan dengan portofolio. Portofolio adalah kumpulan hasil kerja siswa selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.

5. Pendekatan Kontekstual

Hakikat pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan ini dilibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan asesmen autentik.

Johnson (dalam Nurhadi, 2004:13-14) mengungkapakan bahwa karakteristik pendekatan kontekstual memiliki delapan komponen utama yaitu:

a. Memiliki hubungan yang bermakna

b. Melakukan kegiatan yang signifikan

c. Belajar yang diatur sendiri

d. Bekerja sama

e. Berfikir kritis dan kreatif

f. Mengasuh dan memelihara pribadi peserta didik

g. Mencapai standar yang tinggi

h. Menggunakan penilaian autentik

Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas

Langkah-langkah penerapan kontekstual di kelas yaitu sebagai berikut:

a. Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan bertanya (komponen konstruktivisme)

b. Melaksanakan kegiatan menemukan sendiri untuk mencapai kompetensi yang diinginkan (komponen inkuiri)

c. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya (kompoonen bertanya)

d. Menciptakan masyarakat belajar, kerja kelompok (komponen masyarakat belajar)

e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran (komponen pemodelan)

f. Melakukan refleksi di akhir pertemuan, agar peserta didik merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu (komponen refleksi)

g. Melakukan penilaian yang autentik dari berbagai sumber dan cara (komponen asesmen autentik)

6. Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran yang komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan

produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari konteks.







Ciri-ciri pendekatan pembelajaran komunikatif:

Menurut Brumfit dan Finocchiaro ciri-ciri pendekatan komunikatif yaitu:

1. Makna merupakan hal yang terpenting

2. Percakapan harus berpusat di sekitar fungsi komunikatif dan tidak dihafalkan secara normal

3. Kontekstualisasi merupakan premis pertama

4. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi

5. Komunikasi efektif dianjurkan

6. Latihan atau drill diperbolehkan

7. Ucapan yang dapat dipahami diutamakan

8. Setiap alat bantu peserta didik diterima dengan baik

9. Segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak awal

10. Penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima bila memang layak

11. Terjemaah digunakan jika diperlukan peserta didik

12. Membaca dan menulis dapat dimulai sejak awal

13. Sitem bahasa dipelajari melalui kegiatan berkomunikasi

14. Komunikasi komunikatif merupakan tujuan

15. Variasi linguistik merupakan konsep inti dalam materi dan metodologi

16. Urutan ditentukan berdasarkan pertimbangan isi, fungsi, atau makna untuk memperkuat

minat belajar

17. Guru mendorong peserta didik agar dapat bekerja sama dengan menggunakan bahasa itu

18. Bahasa diciptakan oleh peserta didik melalui mencoba dan mencoba

19. Kefasihan dan bahasa yang berterima merupakan tujuan utama

20. Peserta didik diharapkan dapat berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau

pasangan, lisan dan tulis

21. Guru tidak bisa meramal bahasa apa yang akan digunakan peserta didiknya

22. Motivasi intrinsik akan timbul melalui minat terhadap hal-hal yang dikomunikasikan
Mau Yang HOT HOT

Pendekatan Komunikatif Bahasa Indonesia

Pendekatan Komunikatif Bahasa Indonesia


Definisi Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang menekankan pada kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam situasi keseharian.
Beberapa pendapat tentang pendekatan komunikatif
1. Penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur asli untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar dalam proses berkomunikasi atau berinteraksi dan dalam hubungannya dengan konteks sosial (Dell Hymes)
2. Pendekatan yang mengintegrasikan pengajaran fungsi-fungsi bahasa dan tata bahasa (Little Wood, 1981)
3. Pendekatan yang mendasarkan pandangannya terhadap penggunaan bahasa sehari-hari secara nyata (M. Soenardi Dwiwandono, 1996)
Dari pendapat-pendapat di atas tampaknya pendekatan komunikatif ingin ditekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam proses interaksi antarmanusia. Komunikasi di sini juga bisa berupa komunikasi lisan maupun tertulis.

Latar belakang munculnya pendekatan komunikatif
1. Ketidakpuasan akan beberapa teori bahasa: tradisional, struktural, dan mentalistik yang menekankan pembelajaran bahasa pada teori bahasa.
2. Adanya penekanan kurikulum dan kepentingan humaniora. Perubahan kurikulum saat itu masih tetap menekankan pada pemahaman teori-teori bahasa. Akibat dari kondisi ini, siswa secara teori mampu mengusai ilmu bahasa tetapi penggunaan bahasa dalam komunikasi masih kurang.
3. Muncul pendekatan komunikatif tahun 1980. Kemunculan pendekatan ini membawa angin segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.

Ciri-ciri pendekatan Komunikatif
1. Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat
2. Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal
3. Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa
4. Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa

Dengan pembelajaran komunikatif, siswa diharapkan mangusai kompetensi komunikatif. Karakteristik kompetensi Komunikatif
1. Bersifat dinamis. Kompetensi bahasa selalu berubah-ubah menuju ke arah kemajuan sesuai dengan kemajuan dan berkembangan bahasa.
2. Meliputi bahasa lisan dan tulis. Siswa dianggap memiliki kompetensi bahasa apabila mereka menguasai bahasa secara lisan dan tulisan baik dalam tataran reseptif maupun produktif.
3. Bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi yang ada.
4. Meliputi kompetensi bahasa dan performansi bahasa
5. Bersifat relatif

Prosedur pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatif menurut (Finnachiaro & Brumfit, 1983)
1. Penyajian dialog singkat
2. Pelatihan lisan dialog yang disajikan
3. Penyajian tanya jawab
4. Penelaah dan pengkajian
5. Penarikan simpulan
6. Aktivitas interpretatif
7. Aktivitas produksi lisan
8. Pemberian tugas
9. Pelaksanaan evaluasi
Mau Yang HOT HOT

Gallery Foto Memek Basah (Asli Mulus)

Gallery  Foto Memek Basah (Asli Mulus) | Situs Dewasa - entah kenapa menurut saya memek cewek memang lebih menggairahkan dibanding dengan bagian tubuh kaum hawa lainnya. Apalagi jika memek tersebut basah entah dikarenakan terkena percikan air ataupun lendir dibasahi lendir yang keluar dari organ intip para wanita itu. Mungkin anda sudah berulang kali melihat memek cewek entah itu melalui foto ataupun memek original. Namun saya rasa masih sedikit diantara kalian yang sudah mernah melihat foto memek basah seperti dibawah ini, apalagi jika kalian berkesempatan mencicipinya dalam dunia nyata tentu saja itu akan benar-benar woow..!! Dibawah ini adalah gallery foto memek cewek yang sedang basah-basahan dan masih mulus, selamat minkmati..

 gambar memek basah mulus

Gimana gan sudah dicicip memek basahnya....heeee
Mau Yang HOT HOT

Tari Sema / Whirling Dervishes



Tari Sema / Whirling Dervishes adalah Tarian berputar putar Sufi Yang Ulasan Sangat religius Bahasa Dari Timur Tengah. Tarian Suami merupakan Inspirasi Bahasa Dari Filosuf Dan Penyair Turki Yang Bernama Maulana Jalaluddin Rumi, dimana Humanitarian inisial bermakna bahwa Ditempatkan Bahasa Dari Kehidupan di Dunia Dan di bumi Suami adalah berputar.

Para Penari Terus berputar mengikuti alunan musik, dimana semakin lama, putaran ITU kian CEPAT Dan Panjang. Kostum tari Artikel Baru rok Lebar Yang mereka kenakan berkibar Indah. Meliuk seiring Artikel Baru derasnya putaran para darwis (Penari) ITU. Seolah mengalami ekstase, mereka Tampak menikmati putaran demi putaran Yang semakin kencang.

Ketika guru spiritual Maulana Jalaluddin Rumi Yang Bernama Syamsuddin Tabriz, meninggal Dunia, Rumi mengekspresikan kesedihan ITU Artikel Baru Humanitarian sema nihil. Ketika gurunya meninggal, Rumi Sadar bahwa manusia ITU fana. Bahasa Dari Humanitarian ITU, Rumi menemukan tujuan Hidup Yang Hakiki, yaitu MENCARI tuhan. Sejak itulah dia MULAI berputar, bahkan selama Tiga Hari Bisa Tiga malam saja. SAAT berputar, Rumi menanggalkan * Semua emosinya Serta * Semua rasa duniawi. Hanya Satu Yang dirasakannya, yaitu Kerinduan Dan kecintaan Yang Ulasan Sangat Besar FUNDS Sang Sang Pencipta.

Suami Humanitarian memerlukan fisik Yang KUAT, KARENA Bisa berputar-Putar sampai ber jam-jam. Kalau kitd berputar-Putar seperti ITU beberapa menit Saja, mungkin sudah pusing Kepala, bahkan Bisa menimbulkan Mual-Mual Dan mau muntah. Salut kepada mereka Yang Bisa melakukan tari nihil.

sumber : http://filsafat.kompasiana.com/2010/09/12/tarian-sema-whirling-dervishes-merupakan-tarian-sufi-dari-turki-255943.html
Mau Yang HOT HOT